Daily Life

 Hi there Beautiful Souls😘!

Tulisan hari ini tentang gangguan stres pascatrauma atau dalam bahasa Inggris post-traumatic stress disorder atau disingkat PTSD. Gangguan semacam ini tentu sudah well known by khalayak. Namun, menurut pandangan subjektif saya, currently, banyak yang masih menganggap gangguan ini sebagai lelucon atau reaksi lebay para penderita. 

PTSD adalah gangguan mental yang terjadi pada seseorang karena mengalami kejadian traumatis, seperti bencana alam, kecelakaan, terorisme, perang/pertempuran, pelecehan seksual, kekerasan dan sejenisnya (baca: https://www.siloamhospitals.com/en/informasi-siloam/artikel/post-traumatic-stress-disorder) - gangguan kecemasan parah yang dapat berkembang setelah terpapar setiap peristiwa yang menghasilkan trauma psikologis (baca: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gangguan_stres_pascatrauma).

Frasa yang saya bold dan underline (pelecehan seksual) merupakan peristiwa yang kerap melahirkan PTSD - saking kerapnya sehingga nyaris dianggap lazim dan lumrah serta dianggap omong kosong atau dalih untuk membela diri atau pun semata-mata mencari sensasi  (mohon maaf atas pendapat yang menjengkelkan ini). Tentu saja anggapan ini mengukir luka teramat dalam yang senantiasa membekas di hati para korban (korban yang sesungguhnya mengalami) - but, "who cares!"

Menurut artikel Siloam Hospitals Medical Team, berikut beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya PTSD, yaitu:

  1. Mengalami peristiwa traumatis.
  2. Emosi yang cenderung tidak stabil.
  3. Riwayat keluarga kandung yang memiliki gangguan mental.
  4. Tidak mendapatkan dukungan dari kerabat dekat.
  5. Memiliki pekerjaan yang berisiko mengalami peristiwa traumatis, seperti militer, dokter, dan sejenisnya.
  6. Menggunakan obat-obatan terlarang serta mengkonsumsi alkohol secara berlebihan.
Poin no. 4 di atas terpampang jelas dan mudah dibaca, bukan? Analoginya seperti ini Beautiful Souls:
  • Jika, sebut saja Mawar, dilecehkan oleh preman jalanan, dan keluarganya (bisa juga pacar atau suami) pasang badan untuk melindungi dan mencari keadilan untuknya, saya yakin, Mawar masih bisa berdiri tegap menjalani sisa hidupnya walau tak bisa dimungkiri bahwa kilasan peristiwa itu akan senantiasa menghadirkan ketakutan di benaknya.
  • Bagaimana jika, Mawar dilecehkan oleh preman jalanan, dan alih-alih memasang badan untuk melindungi dan mencari keadilan untuknya, keluarganya (bisa juga pacar atau suami) malah melemparkan kesalahan kepadanya karena telah ceroboh. Saya yakin, Mawar akan begitu akrab dengan bagaimana rasanya double kill. Mawar akan terus menyalahkan dirinya atas kecerobohannya, dan dia juga akan teramat kecewa setelah menyadari bahwa dia telah kehilangan cinta dari keluarganya (bisa juga pacar atau suami).
  • Bagaimana jika (poin ketiga ini yang paling nyesek), Mawar dilecehkan oleh orang terdekat (lingkup keluarga) dan alih-alih memasang badan untuk melindungi dan mencari keadilan untuknya, anggota keluarga lainnya malah melemparkan kesalahan kepadanya karena telah mengukir aib dalam keluarga - menyingkirkan Mawar untuk selamanya. Saya yakin, Mawar membutuhkan reaksi di atas level menangis - barangkali karena terkena serangan mega kill (bayangkan saja sendiri ya).
Analogi bernama Mawar tidak berarti selalu diperankan oleh kalangan perempuan. Dewasa ini, kalangan laki-laki juga tak kalah banyak menjadi korban. 

Teruntuk kalian keluarga korban, ketahuilah, peristiwa ini bak mimpi buruk yang selalu menghantui kami. Kami merasa malu! Kami merasa tidak bernilai! Kami hanya butuh telinga kalian. Kami juga minta kalian untuk tidak menghakimi. Just listen and hug us!

Dan teruntuk kamu korban pelecehan seksual yang disingkirkan dan disalahkan, tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu pun dengan hal baik dan hal buruk - semua hanya sementara. Move on and love yourself!

Nothing Lasts Forever
🎵 by Echo & the Bunnymen

Image source: Pinterest
Love 💓
Esther

0 Response to "Daily Life"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel